DI BAWAH BAYANG JAM GADANG IV

BY ; Najamof fN

Diantara embun malam menjelang pagi yang membasuh permukaan taman Jam Gadang Bukittinggi. Diantara tatap bintang yang berkelap kelip jauh disana. Jam Gadang 00.30 Wib….
Sunyi jam gadang adalah pesona indah yang akan meninggalkan kenangan tak terlupakan bagi yang menikmatinya. Jam ini akan sunyi dari terjangan kaki manusia yang menjejaki tamannya pada malam hingga subuh tiba. Dengan leluasa aku menjajah seluruh penjuru taman monument kota Bukittinggi. Dengan bebas aku melepaskan tawa tak bersekat, tak tertahan dan hanya tawaku saja yang terdengar tanpa ada saingan dari tawa orang lain, mungkin tawaku hanya diselingi oleh kawan yang bersamaku saat ini.
Aku ragu tawaku ini suatu saat akan menggema balik menyampari telinga ini karena Jam Gadang semakin hari semakin dikepung oleh barisan gedung pertokoan dan semakin hari gedung-gedung semakin mendekati Jam Gadang. Mungkin Jam Gadang ini sudah merasa sesak karena terus didesak, saat itu yang lebih aku takutkan Jam Gadang ini akan kehilangan identitas dan kecantikannya. Yang aku tahu, perputaran angin yang singgah di taman Kota ini begitu menyejukkan dan tiada henti berhembus hingga menimbulkan nuansa sejuk bagi yang sedang menikmati Monument ini.
Sekarang bedanya ada, berada ditaman ini tidak sesejuk dahulu, malam mungkin tidak terlalu dingin lagi. Batu-batu yang mengelilingi Jam Gadang dan tamannya telah menyerap panas matahari semenjak siang dan pada malam hari, batu-batu itu kemudian melepaskan panasnya. Keadaan itu akan menghangatkan Jam Gadang dan tamannya hingga menyingkirkan dingin serta sejuk yang merupakan bagian dari identitas Kota ini. Maka mimpi buruk sedang disulam, Bukittinggi adalah kota Panas dan gerah!
Di sana, dibawah kaki langit bagian selatan taman kota ini, kala langit menyibakkan tabir awannya, terlihat begitu moleknya gunung kembar nan eksotik. Pendaki gunung sejati di Pulau Sumatera seharusnya tidak lupa untuk menempatkan dua gunung tersebut sebagai bagian dari tujuan dan agenda pendakian mereka. Jika melihat dari taman kota ini, sebelah kanan adalah Gunung Singgalang dan sebelah kiri adalah gunung Merapi.
Sejenak……
Cerita antara Aku, Dia dan Gunung Singgalang merupakan sebuah cerita yang tidak mungkin ku lupa dan ku hapus dari ladang memori ingatanku.
Di sana, beberapa tahun yang lalu aku dan dia menyusuri kaki dan punggung Singgalang yang ganas, mengerikan, menakutkan dan dibawah ancaman badai kasat mata maupun tidak kasat mata.
Aku dan Dia berharap Singgalang menjadi saksi bisu atas usaha awal untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan cinta. Bercita untuk menyelesaikan sebuah cerita indah dengan akhir indah pula. Entah bagaimana Pendapat Singgalang kala itu, yang jelas kami tak peduli karena sudah dimabuk oleh rasa. Rasa yang dipacu tak terkendali sebab tegukan anggur berkadar alkohol seribu persen.
Singgalang yang baru saja diguyur hujan tak menyurutkan niat kami menggapai puncak singgalang disaat banyak pendaki yang mempertimbangkan keinginan untuk menaklukkan puncak Singgalang. Maka, tak menunggu malam bertambah larut, tim kecil kami dibawah bendera sebuah organisasi pencita alam kampus memulai ekspedisi untuk menaklukkan puncak Singgalang dengan target minimal mendapatkan keindahan telaga Dewi. Sebuah telaga bak hiasan rambut indah tergerai yang menghiasi kepala putri yang bernama Singgalang itu.
Pendakian dimulai dengan melewati rute yang biasa dilalui, sepertinya mudah melakukan pendakian di gunung ini dengan resiko tersesat sangat kecil. Hal itu karena pendakian menuju puncak dibantu dengan patokkan tiang listrik, tidak sulit bukan? Tiang listrik saja sudah cukup menjadi pemandu jalan. Jalur pendakian yang siap diguyur hujan harus dilalui dengan hati-hati kalau tidak ingin jatuh terjerembab. Dibawah bayang malam dan kenakalan alat penerangan kami, tim kecil ini terus berjalan menanjak.
Rasa aneh kemudian menghinggapi beberapa orang anggota tim tatkala memasuki satu kawasan hutan yang ditumbuhi dengan tumbuhan semacam alang-alang yang oleh orang setempat di sebut hutan pimpiang. Seperti ada yang memperhatikan kami dibalik semak-semak itu, seperti ada yang mengikuti jejak kami dari belakang. Kami berusaha berkonsentrasi pada diri kami yang sedang susah menaklukkan medan demi medan pendakian dan berusaha bebas dari jajahan rasa-rasa yang sebenarnya tidak masuk akal itu. Setelah bebas dari hutan pimpiang itu, kami serasa mendapatkan kemerdekaan penuh, karena tidak ada lagi rasa-rasa aneh yang menghinggapi perasaan kami seperti yang terjadi dihutan pimpiang tadi.
Pendakian ini terasa lambat pergerakkannya sebab beberapa orang anggota tim adalah pendaki pemula dan ada yang memiliki pisik yang cukup lemah hingga butuh banyak waktu untuk berhenti beristirahat. Akibatnya beberapa tim pendakian lain yang berada dibelakang kami sering menyusul dan mendahului tim kami. Sebenarnya itu mengecewakan hati, tapi apa mau dikata, saat ini aku berada dalam satu tim dan harus tunduk pada kondisi tim. Hingga Subuh tiba kami belum juga mencapai telaga dewi. Padahal idealnya kala subuh tiba, harusnya kami telah mencapai telaga dewi.
Setelah istirahat dan tidur selama lebih kurang satu setengah jam, sinar mentari mulai menelusup masuk kedalam kelam hutan pertanda pagi telah bermahkota matahari. Seluruh anggota tim yang tidur telah bangun dan mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan semakin terasa berat bagi tim kami, mengingat tenaga beberapa orang anggota tim telah terkuras pada pendakian yang dilakukan malam tadi. Berhenti dan beristirahat lebih sering dijalani dan perjalanan ini benar-benar sangat lambat.
Aku dan Dia merupakan pasangan jalan yang sedang dimabuk cinta terus berbimbing tangan, saling menuntun dan saling membimbing antara satu dengan lain. Saling tatap lalu saling melempar senyuman. Saling bercerita lalu bercanda, kemudian tertawa bersama.
Menjelang siang kami telah mencapai kaki cadas. Disana, diatas sana terdapat keunikan Singgalang yang sering disebut telaga dewi. Tak sabar rasanya untuk menikmati indahnya telaga dewi, maka aku dan dia mendahului anggota tim yang lain mendaki bebatuan yang cukup licin bila diterpa hujan. Ditengah cadas, kami berhenti sejenak untuk mengabadikan foto kami berdua dengan meminta tolong pada salah seorang pendaki untuk menjepret lewat kamera yang kami punya.
Tatkala niat kembali untuk meniti cadas menuju puncak telaga dewi, tiba-tiba petir menyambar, langit marah lalu menangis meraung-raung meneteskan air mata yang tajam mengenai tubuh. Petir dan hujan datang begitu cepat. Berjalan dibawah guyuran hujan dan payung petir yang ganas menyambar tentu berbahaya, ditambah lagi dengan medan bebatuan berlumut yang licin tatkala air menyapanya. Maka kami putusankan kembali ke kaki cadas menunggu hujan berhenti dan menyusun rencana baru.
Tendapun segera didirikan sebagai tameng dari hujan deras. Seluruh anggota tim menyerbu kedalam tenda tatkala tenda berdiri. Hujan deras tak begitu lama mendera, tak menunggu hitungan sepuluh menit hujan reda. Maka kami sudah bisa menikmati keindahan taman dan pemandangan kaki cadas singgalang.
Suatu keanehan mulai terjadi, tatkala kami berada didalam tenda, sebuah kumbang hijau masuk dan berputar mengelilingi kepala kami. Spontan salah seorang anggota tim bergumam, “ini pertanda tidak baik”. Tapi gumam itu tak begitu kuacuhkan begitu juga dengan anggota tim yang lain.
Setelah melakukan rembuk antara sesama anggota tim, kami sepakat untuk tidak melanjutkan pendakian mengingat waktu juga melihat bekal logistik yang masih tersisa. 12.30 wib… setelah mengisi perut sekedarnya, tim kami berbalik arah turun dengan target jam 18.30 wib telah tiba kembali di pos pendakian awal. Perjalanan turun mungkin tidak seberat perjalanan mendaki, tapi tetap saja tim kami kesusahan dikarenakan beban bawaan yang basah.
Perjalanan menuju kaki singgalang diisi oleh parade-parade aneh. Parade aneh pertama, Tim kami disambut oleh sekumpulan anak muda-mudi yang bila diingat kemudian mereka tidak seperti para pendaki biasa, dimana pakaian mereka bersih, bergaya dan bukan seperti pakaian para pendaki yang alakadarnya. Lalu diantara mereka ada yang duduk dilambung pohon, tatkala kami melewati mereka, mereka meminta sambil memohon agar sebahagian perbekalan kami diberikan pada mereka dengan alasan perbekalan mereka sudah hampir habis. Spontan dengan dorongan rasa kasihan, aku yang saat itu pemimpin jalan, menyuruh anggota tim mengeluarkan perbekalan untuk diberikan kepada yang meminta.
Parade aneh yang kedua adalah ketika kami melewati kawasan hutan pimpiang, hari mulai berangsur senja dan gelap. Mataku mulai berulah, banyak hal yang aneh mulai mampir dimata. Ah… aku tak akan menceritakan apa-apa saja yang kulihat, karena kutakut singgalang tidak akan semarak lagi dengan misteri. Penglihatan-penglihatan yang tidak masuk diakal itu kutepis dengan logika, “barangkali aku sedang capek, lagipula hampir sepanjang malam tadi hingga saat ini aku belum tidur”. “Mungkin segala penglihatanku hanyalah ilusi”, lanjut gumam hatiku.
Parade aneh ketiga, hutan benar-benar telah gelap, kabut mulai menutupi jarak pandang kami. Patokan tiang listrik samar-samar terlihat lalu hilang dari pandangan. Kami memasang alat penerangan beberapa lilin. Memang tolol terdengar tapi itulah saat itu yang kami miliki. Obor-obor kami telah basah dan tidak mungkin dipakai lagi, sementara itu senter kami sudah kehabisan batray. Dibelakang kami terdengar bunyi suara beberapa orang dengan bunyi kaleng diisi batu lalu digoyang-goyangkan.
Melihat kebelakang adalah pantangan dikala berada dalam gelap dan ditengah hutan yang lebat, apalagi pikiran telah dirasuki pikiran-pikiran aneh, tapi kuberanikan diri untuk melihat dan mengamati belakang tak ada cahaya yang ada hanya suara. Suara-suara itu perlahan mendekat, “ada rombongan lain, sebaiknya kita bergabung!” teriak salah satu anggota tim pendakian.

To be continiu……

Advertisements

4 thoughts on “DI BAWAH BAYANG JAM GADANG IV

  1. Lengga Pradipta says:

    nice story 😉

  2. winzalucky says:

    trims… udah baca dari Part I nya mbak? baca dan kasih kritik donk
    please

    • Lengga Pradipta says:

      ya, saya sudah baca… secara naratif nya saya suka. alurnya tidak dipaksakan. dan kata2nya bermakna dalam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s