DI BAYANG JAM GADANG Part II

Sendu sore dengan layar awan kuning disapa mentari diatas langit Jam Gadang, Bukittinggi. Dengan sebuah senyuman…….

Senyuman itu adalah senyuman yang paling manis di dunia. Senyuman itu bagai intan berkilau mengalahkan segala gemerlap kemilau lainnya. Kilau intannya menerpa kembali mentari hingga bisa-bisa kemilau senyuman itu mengalahkan kemilau mentari. senyuman itu membuat diri terlupa akan sesak kehidupan dan dunia sepertinya berhenti bergerak, berhenti berdetak. Senyum itu seperti obat dikala patah atau doping termanjur yang menyalakan api kehidupan dalam raga ini hingga bergerak dengan penuh semangat menggapai apa yang ingin digapai.

“Apa dan siapa didepan harus menghindar! karena diriku tak lagi sekedar sandal jepit yang hina, akan tetapi diriku adalah mobil berbadan besar dengan panjang ban sepanjang satu hasta yang siap melibas siapa saja yang menghadang”, itulah akibat senyum itu.

Ketika dia merangkai senyuman,, ketika itu terlihat sayap peri yang seperti ingin mengajakku ke surga, tempat segala macam kesenangan dan kebahagiaan. Karena senyuman itu memberikan rasa, sedangkan bahagia serta senang itu adalah ukuran rasa, tak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa. Maka aku mabuk bukan karena anggur atau arak. Maka aku gila bukan karena tahta atau benda. Tapi aku mabuk karena candu senyuman dan aku gila karena wanita pemilik senyuman.
Senyuman yang hampir selalu diberikan kepadaku bagai embun pagi yang membasahi setiap kekeringan disetiap inci jiwa, disetiap depa raga. Embun itu akan turun perlahan tidak terpaksa hingga jiwaku tak kejut dan ragaku tak kejang. Embun itu memberikan belaian kelembutan hingga meluluhkan hati dari tegap kemudian bersimpuh dan kemudian sujud. Sungguh senyumannya telah membuat aku lemah.

Senyuman itu menyambut dikala mata awal terbuka lalu senyuman itu mengantar ke peraduan mimpi. Senyuman itu menari bergelombang dari hari ke hari. Dia tampil dengan aksesoris terbaik dan hiasan kepolosan yang membuat jatuh setiap hati yang dekat dan mendalami jiwanya selayang pandang.

Senyuman itu menemani dikala kemarau menusuk ujung-ujung kepala dan dia tetap menemani tatkala busur hujan mengincar tubuh yang tak berperisai. Ketika dingin menyergap, senyuman itu datang dengan kehangatan selimut tebal melindungi tubuh dari hantaman dingin, atau tatkala panas menyerang, senyuman itu menjamukan hidangan sejuk hingga panaspun pergi dengan malunya.

Namun senyuman itu kadang nakal. Dia mengundang jiwa ini masuk kedalam lorong imajinasi manusawi. Dalam imajinasi manusiawi kemudian berfantasi hewani. Aduhai… Aku akan gila dalam kesendirian tapi ditemani senyuman abstrak yang menggoda ini, karena letupan fantasi lebih dahsyat dari nyatanya.

Namun ketika senyuman nakal itu nyata terpampang di depan, maka raga pecinta akan menarik dirinya untuk bercinta dan menikmati nikmatnya cinta dalam sentuhan cinta lalu bercinta dalam istana biru dengan gumam nakal, tawa nakal, desah nakal, pekik nakal dan segalanya akan menjadi nakal akibat senyuman nakal itu.

Tapi ketahuilah disela senyum itu tersimpan dusta besar, sebesar benda apa yang aku anggap besar. Tidak hanya dusta, akan tetapi juga mengandung kelicikan seorang wanita. Diri tiada menyadari hal kecil yang sebenarnya besar itu. Atau diri telah membaca tapi tak acuh karena telah terlena dalam pangkuan indah senyumannya.

Dibawah bayang Jam Gadang, senyuman itu telah menemani diri dengan satu hati untuk beberapa waktu lamanya. Bersama Jam Gadang dia terus menampangkan senyuman itu adalah senyuman tercantik seperti cantiknya Jam Gadang. Senyuman itu telah menyandera dan mengikut-sertakan Jam Gadang sebagai jaminan.

Jam Gadang di depan sana tak bisa berbuat apa, karena dia tak bisa bicara. Padahal Jam Gadang-pun tahu senyuman itu menyimpan pisau bermata dua yang siap menyabet ke depan atau ke belakang. Senyuman itu hanya bisa dinikmati untuk sementara waktu, karena esok atau lusa senyuman itu akan menjelma menjadi senyuman iblis yang telah puas menjerumuskan manusia kelembah dosa.

Pesona senyuman perempuan ini telah memadamkan mata untuk melihat bintik hitam kecil yang terdiri dari kandungan atom dusta dan atom kelicikan dalam hati perempuan jalang itu. Atom-atom itu akan siap meledak hingga meluluh-lantak pada satu waktu dengan picu tertentu.

Maka jam gadang… saksikanlah hari ini, senyuman itu telah menghancurkan singgasana raja cinta. Kemudian dia kabur dari medan laga, bak kesatria pecundang yang tak pantas disebut kesatria. Dia lari dan pergi jauh sembunyi entah kemana. Maka di depanmu jam gadang, aku bersaksi tidak akan menerima senyuman itu apabila suatu hari kelak dia kembali. Walau dia mengeluarkan sejuta jurus senyuman, biar diri ini hancur dalam kubangan senyuman iblis cukup hanya untuk satu kali dan tak akan terulangi lagi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s