Pengemis tua renta

By ; Zulfikri

Berjalan terseok-seok di bebatuan kehidupan

Rambut kumal separo putih di makan masa

Mata picak bertongkat rotan perjuangan

Tambalan baju yang sudah hampir tak tertambal lagi

Tangan kiri menadah menghadap lagit

Melangkah pincang tertatih di gelombang dunia

Selalu menggelandang di kolong jembatan kemewahan

Satu keping begitu berarti

Satu keping begitu hina bagi yang tak terhitung keping

Menjelang senja menghitung tiap keping

Sekali-kali kepingan basah oleh airmata yang meratap

Airmata yang menunggu kepingan tak bisa menolong lagi

Airmata yang menanti baju tinggal tambalan

Juga tongkat merapuh serta kaki yang sempurna lumpuh

Tebersit tanya dalam tangisan

Begitu kejamkah perlakuan cinta di gelap malam

Dan nistakah sesal terbelenggu rindu

Nasib mempertanyakan tapi takdir beri jawaban

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s