DI BAWAH BAYANG JAM GADANG

Sendu sore dengan layar awan kuning disapa mentari diatas langit Jam Gadang, Bukittinggi.

Burung pipit terbang diantara beberapa pohon sambil menyanyikan lagu pilu menyesali kemajuan zaman yang telah merampas tempat tinggal mereka sedikit demi sedikit. Sejumlah orang lalu lalang disekeliling Monument kebanggaan masyarakat Kota ini. Riuh tawa, beratus ucap dan beribu tingkah manusia terdengar dan terlihat ditaman Jam Gadang pada sore cerah ini.

 

 

Nyanyian para pengamen yang terkadang terdengar agak sumbang terus menghampiri para pengunjung taman kota ini. mereka mendatangi pengunjung yang sedang menikmati kemegahan Jam Gadang. Mereka terus menyanyikan lagu demi lagu dan kemudian berharap uang recehan mampir dalam kantong mereka setelah menyanyikan lagu-lagu mereka. Target mereka terutama para pengunjung yang datang dengan pasangan kekasih atau dengan anggota keluarga.

Terlihat seorang pedagang meniupkan Balon-balon air hingga beterbangan mengikuti arah angin menambah semarak taman. Sekumpulan anak-anak senang melihat balon-balon air itu kemudian mengejar, berusaha menjangkau dan menangkap balon-balon itu, maka pecahlah balon itu di udara, hanya membawa bekas embun pada tangan anak-anak tadi, kemudian mereka berusaha mengejar balon-balon air yang lain.

Tak jauh dari sana seorang pelukis yang biasa melukis wajah sedang duduk mengamati secarik kertas yang ternyata foto dari seseorang. Foto itu diamati secara seksama kemudian sang pelukis mulai membuat sketsa wajah diatas kanvas yang hanya kertas karton nila biasa. Tapi jangan tanya hasilnya, pelukis itu telah membuktikan diri pada pengunjung Jam Gadang dengan memampangkan beberapa lukisan hasil karyanya. Pamer cara melukis dan pameran kecil lukisan itu tidak heran menjadi salah satu objek yang menarik disekitar taman itu.

Jam gadang yang berdiri didepan sana berdiri pongah acuh tak acuh dia terus menggeser jarum jam dari detik perdetik, menit menempuh menit. Puncaknya bak tanduk kerbau yang berusaha menanduk langit Bukittinggi, dia sepertinya siap dan ingin terbang ke atas langit sana tapi ditahan kuat oleh grafitasi bumi.

Jam Gadang itu seperti tidak peduli dengan segala tingkah dan segala rasa yang ada disekitarnya. Tapi apa jadinya jika Jam Gadang itu bisa bicara? Tentu dia akan bercerita banyak tentang apa yang telah terjadi terhadap dirinya dan kondisi sekitarnya selama dia mengikuti zaman.

Monument Jam gadang ini adalah salah satu peninggalan penjajah yang masih dipakai dan kemudian disanjung sebagai ikon kota. Jam yang ukurannya besar ini selalu mengingatkan pada manusia akan kecepatan waktu yang tak bisa ditawar. Setiap Jam-nya, lonceng jam gadang ini berbunyi yang menunjukkan jam berapa saat itu.

Waktu adalah salah satu makhluk terpenting didunia ini, hingga petatah petitih orang bule ada ungkapan seperti time is money. Yah, waktu adalah uang, barang siapa yang mengabaikan waktu berarti dia telah berbuat percuma karena hanya menghabiskan uang diatas ketiadaan uang sekalipun.

Lain orang bule, lain pula orang arab, kearifan local penduduk gurun pasir menilai uang dengan ungkapan alwaqtu ka-syaif, yang bisa dimaknai waktu itu seperti pedang. Jadi leluhur orang arab memberikan nasehat, pandai-pandailah mempergunakan waktu.
Betapa pentingnya waktu itu, hingga dapatlah kita terima jika anak bangsa ini terus menggunakan salah satu peninggalan bung kompeni pada tempo dulu berupa sebuah jam dalam ukuran besar di tengah-tengah kota Bukittinggi ini.

Jam gadang yang bediameter lebih kurang 80 centimeter ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Kota ini. Sebuah kota cantik yang tertelak di Dataran Tinggi Agam persisnya di utara provinsi Sumatera Barat. Kecantikan kota ini timbul karena dukungan dari kesejukkan udaranya dengan panorama alam yang mempesona.

Dengan diapit dua gunung kembar, Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, dua buah gunung yang cukup sakral bagi masyarakat adat Minangkabau. Keberadaan dua buah gunung itu kemudian disatukan oleh satu ngarai eksotic yang lazim disebut dengan Ngarai Sianok. Sebuah ngarai yang disebut-sebut bisa menandingi keindahan green canon yang ada di USA sana.

Bila hujan tiba, Kota Bukittinggi dengan Jam Gadangnya menjadi kota yang sangat romantic bagi setiap mereka yang mempunyai pasangan, tak peduli itu pasangan manusia atau pasangan binatang. Disela udara dingin itu akan timbul kehangatan dari pasangan kekasih, kehangatan dari hati atau kehangatan tubuh, maka jadilah kota ini sebagai kota cantik, yang eksotik lagi erotik.

Tak perlu tutup mata dan tutup telinga, banyak yang menyebut kota ini sebagai Bandungnya Sumatera. Karena kondisi alam, cuaca dan kebudayaannya bisa dibilang mirip. Pada sisi baiknya tentu gelar itu menggembirakan, namun pada sisi jeleknya, gelar itu seperti ingin dicampakkan oleh tokoh sok moralis kota ini. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat mendengar bocoran dari beberapa wartawan kota ini, bahwa terdapat kesepakatan untuk menutupi dan tidak memberitakan hal-hal yang barangkali akan menjatuhkan pamor kota dimata orang “lain”. Sikap munafik apa pula ini?

Mendadak angin berhembus genit membekap setiap kulit yang kemudian mengerut menggigil kedinginan. Mentari tak tampak lagi, hari mulai gelap, bukan saja karena hari menjelang malam tapi juga karena awan hitam menyusuri angkasa seperti siap untuk memerangkap manusia dengan hujan deras. Satu-persatu pengunjung taman Jam Gadang berkurang dan akhirnya hanya tinggal beberapa orang yang bertahan.

Ditengah kepungan kondisi itu, dua hati tengah asyik tenggelam dalam kesunyian. Diantara kesunyian itu ada jeritan pilu yang hendak bersuara lantang lalu terbang. Kedua hati ingin bersuara lantang mengalahkan gelegar guntur sekalipun. Dan sudah dapat dipastikan suara antara dua hati itu berlawanan.

Dua hati yang dulu semarak di bawah bayang jam gadang itu, sekarang kehilangan makna. Satu hati ingin menghapus cacatan dalam waktu yang telah diukir bersama Jam Gadang di depan sana, walaupun itu suatu keputusan yang sulit bagi dirinya. Satu hati yang lain ingin menambah cacatan dalam waktu bersama Jam Gadang, akan tetapi jauh di dalam hatinya, dia menginginkan secara kuat bentuk cacatan itu berupa penipuan, pengkhianatan, balas dendam dan segala dosa lainnya.

Hati pertama ternyata telah tertambat pada satu hati lain yang dulu lama menghilang dalam pusaran waktu dan hati itu kembali lagi menampakkan dirinya pada hati pertama hari ini dan kembali menagih hutang cinta.

Hati pertama luruh dalam tangis cinta yang sebenarnya cinta itu tak pernah padam pada hati lain ini, malahan bara api cinta pada hati lain itu tak pernah dipadamkan, malahan bara itu sekarang dikipas kembali oleh hati pertama hingga kembali menimbulkan api cinta yang garang. “apa yang terjadi, terjadilah. Yang jelas aku ingin kembali pada hati lain itu!”, begitu tekad bulat hati pertama.

Hati kedua secara egois tentu tidak mau menerima begitu saja kejadian itu, dia merasa terlecehkan, dia merasa tak dianggap, dia merasa didustai, dia merasa dikhianati, dan berbagai rasa itu kemudian memicu rasa hitam yang dulu tersimpan jauh-jauh dalam lorong memori yang kelam. Rasa hitam itu berkepala ular hitam, berkepala serigala hitam, berkepala tikus hitam dan selalu mengintai dengan kepala elang yang juga berwarna hitam.

Kini rasa itu sedang menyerbu dan mengepung cahaya mulia yang dulu begitu terang benderang dalam hati kedua. Rasa hitam berusaha menutup cahaya mulia itu dan kemudian ingin menukarnya dengan pusaran badai dendam. Cahaya mulia bernama cinta tulus itu kemudian berperang habis-habisan melawan pusaran badai dendam yang akhirnya akan memporak-porandakan dunia hati kedua sendiri.

Cerita tentang hati pertama dan kedua dibawah bayang jam gadang ini berubah begitu drastis. Padahal dalam laci-laci waktu yang tersimpan bersama bayang Jam Gadang beberapa waktu yang lalu, banyak tersimpan sejuta kisah yang tak semestinya berakhir dan dilupakan begitu saja.

Hati pertama pernah terkejut hingga sakit perut berharap diberi minum dan obat, tersanjung hingga melayang berharap dipegang dan kemudian sujud tatkala hati kedua menyatakan cinta. Dan saat itu hati pertama dan hati kedua mulai menyemai bibit bunga cinta hingga tumbuh subur. Bunga-bunga cinta itu terlihat begitu indah tatkala musim semi cinta hingga mengalahkan keindahan bunga sakura di Jepang atau bunga tulip di Belanda sana.

Di bawah bayang Jam Gadang ini, hati kedua pernah meminta satu kepastian cinta. Karena menurutnya ketidak-pastian adalah dosa karena akan melukakan hati. Ketidak-pastian bak layang-layang tak bertali, oleng kian kemari tak menentu hanya mengikuti mau angin. Ketidak-pastian juga akan menuntun sampan kearah yang tak pasti hingga pada satu waktu akan menempuh laut dalam kelam hingga tersesat jauh hingga tak tahu jalan pulang lagi. Atau sampan itu satu waktu akan menghantam sesuatu yang besar seperti karang atau ombak ganas, “dan kita akan mati percuma…”, begitu ucap hati kedua.

Di bawah bayang Jam Gadang, hati pertama pernah mencurahkan tangis bahagia kala hati kedua mengajaknya pergi menempuh jalan kehidupan dalam satu biduk cinta. Biduk cinta itu kemudian diberi nama biduk bintang kejora, karena bintang yang juga disebut dengan nama bintang timur itu selalu terang tak berkedip.

Bintang kejora dipilih sebagai nama biduk cinta ini karena bintang ini menurut dongeng orang Ibrani dan Arab, adalah penjelmaan dari seorang wanita paling cantik yang pernah ada di bumi ini. Wanita itu bernama Zuhrah, jadi orang Arab dan orang Ibrani biasa juga menyebut bintang itu dengan nama bintang Zuhrah. Zuhrah merupakan lambang keindahan dan kesempurnaan, maka hati pertama dan hati kedua ingin mewujudkan keindahan dan kesempurnaan itu dalam cinta mereka.

Di bawah bayang Jam Gadang, hati pertama pernah menyampaikan janji sakti, “Aku adalah dirimu!”. “jiwaku ragaku maka menjadi milikmu!” Disana hati pertama mengucapkannya berapi-api. Janji hati pertama diikat dengan sumpah sakti “demi tuhan! Demi dua gunung pengawal Jam Gadang! Aku takkan berpaling pada hati lain”. Disela berapi-api air mata masih mengalir dengan sedikit tertahan dalam dam jiwa hati pertama.

Demi itu semua hati kedua, tercenung, bara dendam atas perlakuan cinta yang selama ini hidup dalam jiwanya perlahan padam oleh air mata. Bara luluh menjadi abu dingin kemudian tak berdaya menahan rasa cinta yang tiba-tiba membekap tubuhnya. Berjuta cium dihujamkan diatas kanvas putih, berjuta sujud dihadapkan pada ketulusan. Berjuta tekad telah bulat mungkin tak akan tergoyahkan lagi. Tapi…

Apa cerita yang terukir kemudian? Hati pertama lari dengan hati-nya terdahulu tanpa peduli lagi. Sebuah akhir cerita yang tak diinginkan. Jam Gadang oh Jam Gadang, adakah kau saksikan satu lagi kisah antara satu anak manusia. Jika kau menyaksikannya maka tolong jangan ceritakan pada orang-orang….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s